Senin, 06 April 2015

Tapaki hati di sore ini

Terkulai lemah kaki ini meletakkan pijakan pada bumi.
Aku terduduk sejenak menghela nafas, mencoba mengeluarkan onak yg ada di diri.
Dengan sedikit niat aku berdiri beranjak dari kursi shelter ini.
Ah..ini lagi, ini lagi.

Mata melihat kedepan pada satu tanjakan curam shelter yang setengah jadi.
Tap, tap, tap. Suara kaki spantofel kumuh ku berbunyi.
Ah ya, terhenyak otakku teringat dosen ku baru saja mengomel tadi pagi.
Bahkan suara nya pun terasa terdengar dikuping kanan kiri.

Buat apa kalian kalau hidup seperti ini?
Datang tidak tau aturan, seenaknya kuliah ongkang-ongkang kaki.
Coba pikirkan orangtua kalian yang membanting tulang dan hati nurani.
Mengais rezeki tak pikir apapun kecuali anaknya sendiri.

Kasihan nak..kasihani.
Tatap wajah mereka yang semakin tua dan pucat pasi.
Tak akan selamanya orangtua ada disisi.
Jangan sampai mereka menangis di kubur nanti melihat diri kalian begini.

Dididik, dibesarkan, dibiayai, dicintai sepenuh hati meski kadang kalian lemparkan caci.
Memberi dan memberi.
Ada kah mereka meminta harap kembali?
Berhasil nak, bahagia nak, itu yang mereka harapkan dari diri kalian mahasiswa mahasiswi.

Kelak menjadi pembuktian diri bahwa anak nya sayang dan berbakti.
Cinta mana lagi yang sebesar ini.
Mereka menanti di ujung usia yang semakin beranjak pergi.
Berpelukan pada ibu dan ayah memakai topi kebanggan akbar sang pelajar tertinggi.

Sontak, diri ini ingin mencurahkan seisi air mata meski kaki terus berjalan mengiringi.
Ibu, Ayah aku teringat pada banyak hal di jalan ku pulang ini.
Meski aku banyak melemparkan duri dan caci, aku bahagia kalian masih ada disini.
Ingin lihat meski diangan ku, kita tersenyum bahagia di acara wisuda ku nanti.

Ibu, terimakasih atas bekal yang terkadang aku menyela nya seringkali.
Ayah maafkan diri ini masih tak tau diri meminta uang yang seringkali korupsi.
Di dalam mata hati ini, bahagia kalian adalah mimpiku kini.
Aku berdoa pada Tuhan yang Pengasih, agar kalian selalu sehat dan tak sedih lagi.

Ya Tuhan, berilah aku langkah kaki dan hati yang sekuat baja besi.
Melawan segala kepayahan dan kemalasan setan ini.
Agar aku bisa dan terus bisa meyakini diri.
Dapat terus berjalan dari lantunan Doa dari Ibu dan Ayahku yang kusayangi.



-Based from my own crowded head
Raudatul Assyfa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar